ASSALAM MUALAIKUM

Kamis, 13 September 2012

Ringkasan Biografi Al-Habib Muhammad Al-Bagir

Pada dirinya bermuara banyak keberkahan. Dari berkah Habib Utsman Bin Yahya, Habib Alwi Al-Haddad Keramat Empang, Habib Umar Bin Hud Cipayung, hingga Habib Umar Bin Hafidz dan Habib Rizieq Syihab.


Bila malam Sabtu rutin melewati arah Petamburan, Jakarta Pusat, atau Gilisampeng Kebon Jeruk, Jakarta Barat, jangan kaget bila Anda sering mendapati umbul-umbul putih bertuliskan Majelis Warotsatul Musthofa dengan warna hijau cukup besar.

Majelis yang belum lama berdiri ini tampaknya sudah mendapat hati dari kaum muslimin. Ya, mereka ingin mengenal lebih banyak perihal majelis ini dengan menghadirinya dan mengenal siapakah sosok ulama dakwah yang menjadi sosok sentral di dalamnya.

Melalui penelusuran yang cukup lama, alKisah berkesempatan mewawancarai tokoh itu, di sela-sela padatnya aktivitas dakwahnya. Ternyata, ia seorang anak muda yang tampak kealiman dan akhlaqnya yang mulia pada dirinya. Benarlah kata Al-Imam Asy-Syafi’i dalam Diwan-nya, “Al-‘Alimu kabirun wa in kana shaghiran wal jahilu shaghirun wa in kana syaikhan.” Yang artinya, seorang alim itu terlihat besar kewibawaannya meskipun muda belia usianya, sebaliknya orang bodoh itu terlihat kerdil sekalipun tua usianya.

Subhanallah, alKisah, yang selama ini sedikit banyak menyelami kitab-kitab Habib Utsman dan dulu sering mulazamah ke kediaman keluarganya, jadi “nyambung” saat bermuwajahah dengan tokoh muda ini.

Muara Keberkahan
Dai muda kelahiran Bogor, 19 Agustus 1988, ini adalah Habib Muhammad Al-Bagir bin Alwi Bin Yahya. Mengawali pembicaraan, ia menuturkan asal-usulnya:

“Abah ana adalah Habib Alwi bin Husein bin Muhammad bin Alwi bin Utsman bin Abdullah bin Agil bin Umar Bin Yahya asal Petamburan. Ana keturunan kelima dari Habib Utsman Bin Yahya Mufti Betawi. Sedangkan ibu ana Syarifah Rahmah, putri Al-Habib Ahmad bin Muhammad Alaydrus, yang dijuluki ‘Habib Ahmad Fakhr’ (fakhr berarti “kebanggaan” – Red.) asal Bogor.

Alhamdulillah, ana banyak mendapat keberkahan dan keberuntungan dari kedua kakek ana, yakni Habib Utsman dan Habib Ahmad Fakhr. Pertama, mendapat keberuntungan lahir di tempat tidur Habib Alwi bin Muhammad Al-Haddad Keramat Empang. Kamar khusus ini memang disediakan enjid (kakek) ana untuk Habib Alwi Al-Haddad, yang memang selalu ditempati beliau saat berkunjung ke rumah kakek ana, Habib Ahmad Fakhr. Jadi ada atsarnya di situ.

Satu keberuntungan lagi yang ana peroleh adalah ketika Ummi tengah mengandung ana. Beliau pergi ke kediaman Habib Umar Bin Hud Alatas, bertabarruk atas kehamilannya kepada Habib Umar.  Makanya, ummi ana mendapati ana punya wajah agak berbeda dari yang lain, lebih mancung, seperti hidung Habib Umar Bin Hud Alatas. Yang kedua, dari Habib Utsman.

Alhamdulillah segala sesuatunya menjadi amanah yang mulia yang patut ana emban sampai kapan pun.”

Ke Darul Mushthafa
Akhir 1999, saat usia 11 tahun, Habib Muhammad Al-Bagir, atau biasa disapa “Habib Bagir”, selulus dari SD, berangkat mondok ke Darun Nasyiin, Lawang, Jawa Timur, yang saat itu diasuh Habib Ali bin Muhammad Ba’bud.

Tak lama ia mondok, abahnya sakit. Dan, atas permintaan abahnya, akhirnya Habib Bagir kecil menyudahi nyantrinya di Lawang. Abahnya memintanya untuk sekolah di tempat yang terjangkau jaraknya oleh keluarga. “Ana ikuti keinginan orangtua, tapi ana hanya mau di pesantren, bukan sekolah umum,” katanya. 

Habib Bagir pun melanjutkan belajarnya ke Ma’had Darus Sa’adah Al-Habib Umar bin Muhammad Bin Hud Alatas, Cipayung, Bogor. Di antara guru-gurunya pada saat itu adalah Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa, Habib Quraisy Baharun, Habib Hamid Barakwan, Habib Muhammad Al-Baiti, yang kesemuanya adalah murid-murid senior Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz.

Selepas menempuh pendidikan selama dua tahun, pada tahun 2002, Habib Bagir berangkat ke Hadhramaut, untuk meneruskan pendidikan ke Darul Mushthafa. Alhamdulillah, semua berjalan dengan mudah atas izin Allah. Niat untuk belajar yang kuat menjadikan semuanya itu dimudahkan oleh Allah Ta’ala.

Tahun 2007, setelah bermukim selama lima tahun, Habib Bagir kembali ke tanah air. Sebetulnya ia masih berkeinginan belajar di sana, namun orangtua memintanya membantu aktivitas dakwah di Jakarta.
Kenangan saat di Darul Mushthafa begitu indah. Khidmah selama di sana terbukti keberkahannya. Benarlah kata sebuah syair:

Man khadama
qadama

Siapa yang mengabdi
akan maju


“Pada bulan Ramadhan, saya hanya membantu mencuci karpet, menyapu lantai dan halaman, membantu di dapur untuk menyediakan ta’jil, dan semua pekerjaan rumah tangga yang terkadang terlihat sepele. Namun, subhanallah, apa yang saya lakukan itu menurunkan keberkahan buat saya. Di Darul Mushthafa itu semuanya ilmu dan mengandung berkah yang besar. Guru Mulia sering mengunjungi dapur saat kami bekerja, dan beliau menebarkan senyum kepada kami. Sungguh, beliau seperti orangtua kepada anaknya, penuh kasih dan mengemong kami dengan ilmu dan akhlaq beliau,” kenangnya.

Kenangan lainnya yakni pergaulan dengan orang-orang Tarim. Sebelum masuk ke Darul Mushthafa, biasanya santri pemula mondok di Rubath Syihr, cabang Darul Mushthafa dan awal mula tempat berdirinya Darul Mushthafa sepulangnya Habib Umar belajar dari Baydha`. “Nah, orang-orang Arab di Syihr ini yang mengajari kami belajar bahasa Arab yang murni dan fasih, juga bahasa

Arab yang lazim dipakai di Tarim dan Yaman secara keseluruhan. Bahkan kami juga berkesempatan belajar bahasa Inggris dan Afrika, dari para kawan kami, murid-murid pemula Tuan Guru, yang berasal dari Amerika, Inggris, Australia, dan Afrika. Jadi menambah wawasan pergaulan kami.”

Alhamdulilah, di tanah air, ia masih diberi kesempatan untuk belajar lagi kepada beberapa ulama habaib, di antaranya Habib Umar bin Abdullah Alatas Berdikari Rawabelong dan Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab Petamburan. Di samping itu ia juga ikut serta aktif di majelis mudzakarah bersama Habib Jindan, Habib Ahmad, dan sejumlah ustadz lainnya, alumni Darul Mushthafa.

Warotsatul Musthofa
Sepulang dari Tarim, Habib Muhammad Al-Bagir punya tekad untuk memakmurkan kembali Masjid Jami' Al-Islam Petamburan, Jakarta Pusat, sebuah masjid peninggalan Habib Utsman Bin Yahya, buyutnya. Di masjid itulah untuk pertama kalinya ia menyampaikan khuthbah Jum’at dan mengajar ta’lim setiap Ahad malam.

Tiga tahun kemudian, berkah dari ilmu yang diperoleh, Habib Bagir mengajar di beberapa majelis, masjid, dan mushalla di beberapa wilayah, bahkan sampai ke Bogor.

Setelah berjalan sekian tahun, timbul keinginan dari dirinya untuk membangun sebuah majelis yang terorganisir yang menaungi sekian majelis yang diasuhnya. Tujuannya, agar bermanfaat lebih banyak bagi umat lewat satu payung majelis sehingga timbul kebersamaan.

Alhamdulillah, kemudian berdirilah majelis yang dinamakan “Warotsatul Musthofa”.

Kegiatan Warotsatul Musthofa berjalan dari majelis ke majelis, rumah ke rumah. Perlahan namun pasti, semuanya berkembang pada satu tujuan untuk mengajak jama’ah mempelajari Islam lebih baik lagi, mengenal dan mencintai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Betapa indahnya kalau melihat negeri ini makmur oleh majelis, diwarnai oleh muslimin dan muslimah yang hidup harmonis, yang mencintai Rasulullah SAW, menjalani syari’at beliau dalam segala bentuk aktivitas mereka.

Alhamdulillah, murid dan jama’ah antusias mengikutinya. Mereka berbondong-bondong berperan serta. Ada yang membawa sound system,  tenda. Ada yang mengurusi sablon, ada yang menyumbangkan keahlian berorganisasi. Semua terwadahi.

Dengan merendah Habib Muhammad Al-Bagir mengatakan bahwa dirinya hanya menjadi pendorong dan penasihat, sedangkan semua yang menjalaninya jama’ah dan murid-muridnya.

“Mereka ini punya semangat yang tinggi untuk menumbuhkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan, yang mencintai majelis ini bukan hanya para orang tua, pemuda, dan remaja, tapi juga anak-anak kecil. Mereka ini suka datang ke rumah saya, mau minta bendera-bendera kecil. Yah, namanya anak-anak.... Semangat dan cinta mereka tumbuh karena fithrah yang Allah berikan, subhanallah.

Di samping itu, bilamana pengajian kita adakan, ada pembacaan tilawatul Qur’an, dan yang membaca itu anak kecil, sehingga ini menjadi daya tarik yang luar biasa buat siapa saja, bahwa penanaman aqidah dan syari’ah, penanaman mahabah kepada Rasulullah SAW, dilakukan sejak usia dini.”

Namun ia tekankan juga kepada jama’ah, “Ini bukan majelis sekadar rame-rame. Ini majelis yang harus tetap berada pada koridor Islam yang benar. Jama’ah laki-laki dan perempuan tidak diperkenankan campur baur, dan pembacaan Al-Qur’an dan Maulid harus disimak baik-baik, agar turun keberkahan dari Allah Ta’ala buat semua.”

Ia berharap, semoga jama’ahnya meneladani akhlaq Rasulullah SAW.

Tentang nama Warotsatul Musthofa, nama itu diperoleh lewat kontak bathin dengan gurunya, Tuan Guru Mulia Habib Umar Bin Hafidz. “Bisyarah ini saya peroleh dari Guru Mulia Al-Habib Umar Bin Hafidz saat beliau berkunjung ke Majelis Darul Mushthafa Petamburan beberapa tahun yang lalu,” kata habib muda keturunan kelima Habib Utsman ini.

Wilayah dakwah dengan bendera Warotsatul Musthofa yang telah berjalan selama empat tahun ini kini mencakup sebahagian besar wilayah Jakarta, terutama Jakarta Barat dan Jakarta Pusat, sebahagian Jakarta Timur dan Selatan, hingga sampai ke Tangerang, Parung, serta Gunung Sindur di Bogor.

Kesan dan Pesan para Guru
Guru yang sangat dikagumi Habib Muhammad Al-Bagir di antaranya Habib Muhammad Rizieq Syihab. “Beliau guru pertama ana saat masih dalam usia belia dan beliau baru pulang belajar dari Arab Saudi,” ujarnya. Kemudian Habib Ali bin Muhammad Ba’bud (Lawang), Habib Munzir Al-Musawa dan Habib Quraisy Baharun (Darus Sa’adah Cipayung), Syaikh Obeid Balas’ad (Darul Mushthafa), almarhum Habib Umar bin Abdullah Alatas (......................), dan masih banyak lagi. Mereka ini benar-benar mengisi relung hatinya. Maka wajarlah, keberkahan selalu mengiringi habib muda ini.

Sedang guru yang sangat memotivasinya untuk terjun ke dunia dakwah yakni Tuan Guru Mulia Al-Habib Umar Bin Hafidz, yang cara mendidik dan mengajarnya sungguh luar biasa. Ia seperti orangtua kepada anaknya, penuh kasih dan mengemong murid-murid dengan ilmu dan akhlaqnya. “Bila saya mendapati suatu hal yang bikin saya jenuh atau terbersit sesuatu hal yang tidak mengenakkan bathin,  usai shalat berjama’ah lalu berkesempatan memandang wajah Guru Mulia, hilanglah semua permasalahan itu, tanpa berkeluh kesah atau curhat kepada beliau. Bahkan berganti dengan ketenangan bathin. Maka, bagaimana bila mendapati senyuman beliau. Subhanallah...,” kata Habib Bagir dengan mata berbinar
Begitu juga dengan gurunya sejak ia masih kecil dan masih bermulazamah dengannya hingga kini, yakni Habib Muhammad Rizieq Syihab. Habib Rizieq selalu menekankan pesan dan kesan yang dalam, baik saat ia hendak berangkat ke Tarim maupun hingga sekembalinya ke tanah air, dan mengaji lagi kepadanya, “Jangan pernah berhenti berjuang untuk berdakwah, istiqamah dalam mengingatkan kebaikan dan kebenaran kepada orang lain.”

Lalu ia menambahkan, “Pesan beliau yang sangat ana pegang adalah, ‘Jangan berbicara dengan niat orang mau dan harus mendengarkan pembicaraan kita. Katakan, yang haq itu haq dan yang bathil itu bathil. Jangan meminta sesuatu kepada orang. Jangan mengandalkan keindahan retorika atau ceramah yang bagus, yang hanya membuat orang senang tapi tidak menyentuh hati orang yang didakwahi, apalagi menimbulkan akhlaq yang tidak bagus. Yang terpenting adalah menjaga akhlaq’.”

Begitupun dengan sang ayah. Ada pesan dari ayahnya yang hingga hari ini terus dijaga. “Saya ingat, waktu itu saya sedang membenahi pakaian ke dalam koper saya saat detik-detik keberangkatan dari rumah menuju bandar udara, untuk berangkat belajar ke Tarim. Abah sambil memandangi saya berkata, ‘Ya Muhammad Al-Bagir, nanti sepulang belajar dari Tarim jangan bawa pulang apa pun. Satu saja yang dibawa pulang: akhlaq! Abah cuma berharap satu hal itu. Kitab-kitab boleh dibawa pulang. Pakaian tinggalkan saja, kasih buat orang-orang di sana.’ Pesan itulah yang terus saya pegang hingga kini,” demikian Habib Bagir mengenang.

Ya, baginya, akhlaqlah yang pokok, tonggak amal dan mu’amalah kepada siapa pun. Tidak memandang status seseorang, apalagi ukuran-ukuran duniawi. Bahkan seorang yang dikatakan alim pun dapat tergelincir dalam hal ini.

Ia menuturkan, “Seorang jama’ah ana punya kakak cacat seumur hidup. Sering kali ia menanyakan diri ana kepada adiknya yang ikut majelis ana. Pengin ketemu, katanya. Walhasil, ana yang pengin datang ketemu kakaknya. Subhanallah, ia nggak menyangka malah ana yang datang, dan ia terharu.

Ana memang selalu berupaya agar ana bergaul dengan akhlaq yang mulia, seperti yang dipesankan Abah dan guru-guru ana.”

Meneladani Akhlaq Rasulullah
Ketika alKisah menanyakan ihwal cita-cita, Habib Muhammad Al-Bagir mengatakan, cita-citanya bukan seperti cita-cita kebanyakan orang, yang pada umumnya untuk urusan pribadi. Ia bercita-cita ingin jama’ahnya dan umat ini punya akhlaq seperti akhlaq Rasulullah SAW dan berjalan pada jalan yang diridhai Allah Ta’ala.

Cita-cita lainnya, ia berharap, lewat Majelis Warotsatul Musthofa, kelak ia bisa membangun pesantren, lembaga-lembaga sosial, sehingga ada wadah buat orang-orang susah yang belum berkesempatan menimba ilmu. Sesuai namanya, Warotsatul Musthofa, yang berarti “warisan Baginda Nabi Muhammad SAW”, tidak mewariskan dinar ataupun dirham, melainkan mewariskan ilmu. Dan warisan itu bukan hanya hak dzurriyyahnya, tapi juga seluruh umatnya. “Mudah-mudahan ada jalan untuk niatan baik ini lewat orang-orang yang baik, amin...,” katanya penuh harap.

Habib Bagir juga ada niat untuk menulis, di antara kesibukan mengajar dan berdakwah. Sebahagian dari fawaid (catatan atas syarah ilmu yang disampaikan guru-guru secara lisan) dan apa yang terbetik di hati, sejauh ini sudah banyak dirangkumnya. Namun langkah konkret yang kini tengah difokuskannya adalah mengumpulkan dan menginventarisir karya-karya kakeknya, Habib Utsman bin Abdullah Bin Yahya, yang termasyhur sebagai mufti Betawi dan penulis kitab yang sangat produktif.

Ada kurang lebih 160 buah karya Habib Utsman yang ada di berbagai negeri dan daerah. Di Hadhramaut sendiri, Habib Bagir mendapatinya di perpustakaan Habib Abdullah bin Husein Bin Thahir, seorang ulama penulis kenamaan. Begitu pun dari beberapa ulama atau kiai Betawi di Jakarta, ada beberapa karya Habib Utsman yang dikoleksi para kiai ini dalam bentuk cetakan lama. Sedangkan yang di Belanda, ada di perpustakaan Universitas Leiden.

Habib Bagir ingin agar jama’ah dan umat bisa menggali karya-karya Habib Utsman ini dan memahaminya kembali. Dengan cara, ia mempermudah bahasanya dari bahasa Melayu lama, atau menerjemahkan yang berbahasa Arab.

Untuk saat ini, ia mengajarkan kitab Sifat Dua Puluh dalam majelis-majelis yang diadakan Warotsatul Musthofa. Ternyata, sambutannya luar biasa. Dari para kiai dan habaib, Habib Bagir terus mendapat dorongan untuk mensyiarkan kembali turats (karya) Habib Utsman.

“Habib Ali Bin Sahil, orangtua dan juga guru ana, berkata kepada ana, ‘Kitab enjid (yakni Habib Utsman) mesti kita hidupkan lagi, ya Muhammad Al-Bagir...’. Begitu pun saat di Hadhramaut, ada seorang kakek ana yang juga ulama di sana, cicit langsung Habib Utsman, Habib Ali bin Muhammad Alaydrus, yang ana mengaji kepadanya setiap Kamis, berpesan, ‘Kalau bukan kita yang membaca karangan-karangan Habib Utsman, siapa lagi?’ Inilah kewajiban yang harus kita tunaikan dari para orangtua kita,” katanya penuh semangat.

Alhamdulillah, para keturunan Habib Utsman yang lainnya bahu-membahu untuk menghidupkan atsar (peninggalan) dan turats (karya)-nya. Ada Habib Ahyad Banahsan di Ma’had Al-‘Abidin Jakarta Timur dan cucu langsung Habib Utsman, yakni Habib Abdullah bin Yahya bin Utsman Bin Yahya, di Sudimara, Jombang, yang menghidupkan pembacaan kitab-kitab Habib Utsman di majelisnya, serta masih banyak lagi para keturunannya. Bahkan banyak juga majelis-majelis yang diasuh kalangan kiai dan asatidz Betawi yang dalam majelisnya menggunakan kitab-kitab karya Habib Utsman. Inilah mudah-mudahan bentuk penghargaan atas keilmuan Habib Utsman dan buah amalnya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tahun Baru Hijriyyah
Menutup wawancara dengan habib muda yang murah senyum ini, ia menyampaikan pesan tentang Tahun Baru Hijriyyah yang akan kita lalui sesaat lagi. Hendaknya kita mengenang hijrahnya Nabi SAW dan para sahabat dan mengambil ibrahnya. Mari berhijrah dari keadaan yang tidak diridhai Allah menuju keridhaan-Nya. Menjadikan hari-hari kita ke depan kepada hal yang lebih baik lagi, sebagaimana Baginda Nabi SAW menjadikan hari-hari dalam kehidupannya dalam keadaan yang suci dan baik.

Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Al-yawm ‘id, bukrah ‘id, ams ‘id, kullu yawmin la na’shi wa la dzanba fihi fahuwa ‘id.” Yang artinya, hari ini adalah hari raya, besok hari raya, bahkan kemarin juga hari raya. Setiap hari yang tidak kita isi dengan kemaksiatan dan dosa, itu adalah hari raya. Maka dari itu, mudah-mudahan, membuka lembaran baru di Tahun Baru Hijriyyah ini, kita semua selalu memperbaharui hidup dalam keadaan yang diridhai Allah SWT. Amin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar